Setelah Update Spectre dan Meltdown, Prosesor Intel Hanya Melambat 10%

Intel telah merilis software dan firmware untuk menutup celah keamanan pada prosesor yang dikenal dengan nama Spectre dan Meltdown. Dampak terekstrem pembaruan tersebut hanya memperlambat kinerja PC hingga 10%.
Demis Rizky Gosta | 11 Januari 2018 14:16 WIB
Ilustrasi Intel generasi ke/8

Bisnis.com, JAKARTA — Intel telah merilis software dan firmware untuk menutup celah keamanan pada prosesor yang dikenal dengan nama Spectre dan Meltdown. Dampak terekstrem pembaruan tersebut hanya memperlambat kinerja PC hingga 10%.

Vice President Intel Navin Shenoy mengatakan Intel telah mengumpulkan data langsung dari komputer milik pelanggan yang telah mengunduh software dan firmware pembaruan Intel.

“Kami sebelumnya menyatakan bahwa kinerja prosesor Intel tidak akan berdampak besar pada kebanyakan pengguna komputer. Data yang kami rilis hari ini mendukung perkiraan tersebut,” katanya dalam tulisan di situs resmi Intel, Rabu (10/1).

PC yang dimotori oleh platform cip generasi ke-8 Intel seperti Kaby Lake dan Coffe Lake dengan sistem operasi Windows 10 hanya terdampak marginal. Kinerja program office dan pengolahan konten hanya melambat kurang dari 6%.

Pada beberapa kasus, menurut Shenoy, pengguna PC merasakan dampak yang siginfikan. Contohnya, pengguna aplikasi web dengan program Java yang kompleks merasakan perlambatan hingga 10%.

Pengguna yang memainkan gim dengan kebutuhan komputasi grafik tinggi dan program analisa finansial merasakan dampak minim.

Pengukuran atas dampak kinerja kepada PC yang dilengkapi dengan prosesor generasi ke-7 Intel untuk mobile nyaris serupa dengan prosesor generasi ke-8.

Untuk platform yang berbasis prosesor generasi ke-6, dampak pembaruan lebih besar yaitu sekitar 8%. Hasil perhitungan serupa didapatkan dari pengukuran kinerja PC berprosesor Intel 6 yang menggunakan Windows 7.

Shenoy mengatakan dalam sepekan ke depan Intel akan merilis data kinerja platform mobile dan desktop yang diluncurkan dalam 5 tahun ke belakang.

“Bagi pelanggan Intel yang saat ini cemas atas dampak terhadap kinerja. Intel ingin Anda tahun kami terus menjajaki berbagai solusi dengan partner kami untuk mengurangi penurunan kinerja tersebut,” kata Shenoy.

Dikutip dari Reuters, Kamis (4/1/2018), peneliti dari Alphabet Inc. Google Zero Project bekerja sama dengan akademisi dan peneliti industri dari beberapa negara menemukan dua celah keamanan fatal di Cip produksi Intel, AMD, dan ARM.

Dasar dari celah keamanan yang ditemukan para peneliti Google adalah speculative execution. Ini adalah teknik pemrosesan data yang digunakan dalam mayoritas cip Intel sejak 1995 dan banyak ditemukan di prosesor produksi ARM dan AMD.

Fitur speculative execution memberikan prosesor kemampuan untuk menebak apa yang akan diperintahkan selanjutnya. Jika tebakannya benar, komputer Anda semakin cepat. Jika salah, mereka akan membuang data “tebakan” dan memilih prediksi baru pada kesempatan selanjutnya. Kemampuan ini yang membuat setiap komputer modern bisa bekerja cepat dari supercomputer hingga ponsel pintar.

Project Zero menemukan dua celah untuk menembus aplikasi teraman sekalipun. Secara sederhana, kedua celah ini digunakan untuk menggunakan metode pembuangan data di atas sehingga peretas bisa membaca data yang seharusnya rahasia. Skenario terburuknya, komputer Anda bisa dibohongi sehingga menyerahkan kata kunci kepada peratas.

Celah pertama yang ditemukan Project Zero adalah Meltdown. Celah ini ditemukan pada cip produksi Intel. Caranya adalah dengan menembus “pagar” yang diciptakan untuk menghalangi aplikasi mengakses memori kernel, program manajemen dasar komputer yang tidak bisa diubah oleh program apapun.

Tag : serangan siber
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top