Baru 16 Juta Penduduk Indonesia Pengguna Aplikasi Berbayar

Adapun untuk penetrasi pengguna aplikasi berlangganan lebih rendah lagi yakni hanya 6,29%.
Dhiany Nadya Utami | 20 Februari 2018 10:56 WIB
Model memperlihatkan smartphone terbaru Samsung Galaxy Note 8 pada peluncurannya di Lotte Shopping Avenue, Jakarta, Jumat (29/9). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Penetrasi pengguna aplikasi berbayar di Indonesia saat ini masih cederung rendah.

Hal tersebut tercantum dalam Survei Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2017 yang dikeluarkan Asosiasi Penyedia Jaringan Internet Indonesia (APJII) pada Senin (19/2/2018).

Survei tersebut menyatakan penetrasi pengguna aplikasi berbayar hanya 11,41% dari total pengguna internet Indonesia yang mencapai 143,26 juta atau sekitar 16,3 juta pengguna.

Adapun untuk penetrasi pengguna aplikasi berlangganan lebih rendah lagi yakni hanya 6,29%.

Sekretaris Jenderal APJII Henri Kasyfi mengatakan APJII belum memiliki data mengenai alasan dibalik rendahnya penetrasi pengguna aplikasi berbayar dan berlangganan tersebut, namun pihaknya berkoordinasi dengan Badan Ekonomi Kreatif untuk hal tersebut.

“Itu jadi pekerjaan rumah selanjutnya, isu-isu yang terkait Bekraf kita koordinasikan dengan mereka,” ujarnya.

Dalam survei yang sama APJII mencatat, berdasarkan level ekonomi, komposisi pengguna internet didominasi oleh kelompok dengan status ekonomi sosial bawah (74,62%).

Hal ini mengindikasikan mayoritas pengguna internet di Indonesia memiliki daya beli yang cederung rendah.

Dihubungi terpisah, CEO Wali Studio, Fauzil Hamdi menilai jumlah presentase tersebut sebetulnya sebuah angka yang cukup baik.

“Kalau secara persentase memang kecil hanya sekitar 11%, tapi kalau secara jumlah [lebih dari] 15 juta pengguna itu besar,” tuturnya.

Ia juga mengatakan meski mayoritas pengguna internet di Indonesia berasal dari SES rendah, tapi mereka masih punya daya beli.

“Artinya mereka punya kemampuan, cuma agak rendah. Jadi sebaiknya kalau menggunakan paid feature, bisa dibuat skema harga yang cukup terjangkau,” tambahnya.

Faizul menjelaskan kebanyakan aplikasi buatan lokal merupakan aplikasi freemium, yakni aplikasi yang bisa dipasang secara gratis tetapi kenakan biaya jika pengguna ingin menikmati fitur premium.

Tag : internet
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top